makalah SKDN (Status Gizi Balita )

Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan ditimbang berat badannya (D) di posyandu maupun di luar posyandu satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.Balita yang naik berat badannya (N/D)Definisi Operasional Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang ditimbang (D) di posyandu maupun di luar posyandu yang berat badannya naik dan mengikuti garis pertumbuhan pada KMS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

via makalah SKDN (Status Gizi Balita ).

Indikator MDGs ke Empat : Menurunkan Kematian Anak

Originally posted on Arali2008. Opini dari Fakta Empiris:

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.– Dalam MGDs yang telah disepakati para pimpinan dunia, ada 8 tujuan (GOALs) yang ingin dicapai diantara tahun 1999-2015. Untuk mencapai 8 tujuan MDGs ini harus jelas definisi dan konsep indikator yang akan digunakan, pada postingan sebelumnya penulis telah memaparkan pencapaian MDGs untuk penurunan kematian anak di Polewali Mandar. Namun bagaimana penggunaan indiktornya (terutama definisi dan konsepnya) belum dijelaskan pada postingan tersebut, berikut penulis memposting indikator pencapaian MDGs untuk menurunkan angka kematian anak. Targetnya selama tahun 1990 – 2105  setidaknya dapat menjadi pedoman untuk daerah lain  dalam menurunkan angka kematian balita sebesar dua per tiganya. Untuk mencapai target ini ada dua indikator dibuat yaitu

Indikator Global dan Lokal Pencapaian Target MDGs Ke empat : Menurunkan Kematian Anak :

  • Indikator global atau nasional untuk memonitoring pencapaianTarget ke empat yaitu angka kematian balita, angka kematian bayi  dan proporsi campak pada bayi yang telah mencapai usia 1…

View original 1,353 more words

Materi Pembicara KPIG dan Temu Ilmiah Internasional

LOGO PERSAGI

KURSUS PENYEGAR ILMU GIZI (KPIG)

  1. Pengantar Pentingnya Memahami SUN – Soekirman
  2. Periode Kritis 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Dampak Jangka Panjang terhadap Kesehatan dan Fungsinya – Endang L. Achadi
  3. Peranan Gizi dalam Meningkatkan Bonus Demografi – Fasli Jalal
  4. Manajemen Penyelenggaraan Makanan dalam Keadaan Darurat – Tim Gizi RSUP Dr. Sardjito
  5. Manajemen Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit berdasarkan Standar JCI “Standard Prevention & Control of Infection” – Suharyati (Tim Gizi RSCM)
  6. Manajemen Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit berdasarkan Standar JCI “Standar Pelayanan Pasien” – Merry Aitonam (Tim Gizi RSCM)
  7. Manajemen Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit berdasarkan Standar JCI “Standard For Hospital”– Anna Ngatmira

PLENO

  1. Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan Bidang Gizi dan KIA – Anung Sugihantono
  2. Pengembangan Profesi Gizi sesuai Tantangan Masalah Gizi Saat Ini dan Mendatang – Soekirman
  3. Peranan Petugas Gizi dalam Pelayanan yang Dijamin oleh BPJS Kesehatan – Donni Hendrawan
  4. Upaya Peningkatan Kualitas Tenaga Gizi melalui Penguatan Akreditasi Institusi Pendidikan dan Uji Kompetensi – Arum Atmawikarta
  5. The Role of DAA in Maintaning The Quality of Nutrition and Dietetic Competencies in Promoting Healthy Lifestyles through Nutrition in Australia – Eleanor Beck
  6. Capaian Pembelajaran Profesi Gizi terhadap Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia – Illah Sailah
  7. SDM Indonesia Masa Mendatang – Atmarita
  8. Pedoman Gizi Seimbang 2014 – Benny Kodyat
  9. Total Diet Study (TDS) A Progress Report – Siswanto
  10. Parental Height and Stunting – Regina Moench-Pfanner
  11. Emergence of Vitamin D “Epidemic” and Its Consequences – Reinhold Vieth
  12. Nutritional Functions of Amino Acids-Focusing on Therapeutic Aspect of BCAAs – Yoshiharu Shimomura

SIMPOSIUM

SIMPOSIUM I

  1. A New Initiative to Reduce Stunting melalui Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM)– Minarto
  2. Implementasi Penyelenggaraan Makanan dalam Keadaan Darurat – Edward “Edo” Bachtiar
  3. Sistem Sertifikasi Registrasi Uji Kompetensi Tenaga Kesehatan – Meylina Djafar
  4. Standar Terkini Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) – Marina Damajanti
  5. Ketahanan Pangan dan Gizi – Badan Ketahanan Pangan
  6. Makanan Siap Santap dalam Keadaan Darurat – Almasyhuri
  7. Akreditasi Pendidikan dan Institusi Pendidikan Gizi – Hardinsyah
  8. Sosialisasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia 2013: Apa yang Baru? – Djoko Kartono
  9. Tabel Komposisi Pangan Indonesia – Mien Karmini

SIMPOSIUM II

  1.  Asuhan Gizi pada Penyakit Ginjal Kronik – Triyani Kresnawan
  2. Asuhan Gizi pada HIV-AIDS – Fitri Hudayani
  3. Fortifikasi Beras: Review Pengalaman di Berbagai Negara – Sunarno Ranu Widjojo
  4. Fortification of Palm Oil in Indonesia: From Research to Mandatory SNI – Drajat Martianto
  5. Cemaran Kimia Pangan dan Dampaknya terhadap Kesehatan – Roy Sparringa
  6. Pengalaman Penyelenggaraan Makanan untuk Atlet – Theresia Sedyanti U
  7. Akreditasi Rumah Sakit terkait dengan Pelayanan Gizi – Rina Maharani Moestikawati
  8. Pengembangan Perangkat Lunak Pendidikan Gizi untuk Penyampaian Pesan Singkat Gizi – Yohanes Kristianto
  9. The Lancet’s Series on Maternal and Child Undernutrition 2008 and 2013 – Abdul Razak Thaha
  10. Naturoceutical-Functional Food Isogenic Medicine : From Conventional goes to Biomolecular – Amarullah H. Siregar
  11. Omic Science in Nutrition An Introduction – Siswanto

SIMPOSIUM III

  1. Kerusakan DNA pada 1000 Hari Pertama Kehdupan – Anang S. Otoluwa
  2. Status Vitamin D Terkini Anak Indonesia Usia 1,0-12,9 Tahun – Fitrah Ernawati dan Sandjaja
  3. Status Vitamin D pada Pekerja Wanita Pabrik Tekstil di Kota Bogor – Dodik Briawan
  4. Kepadatan Tulang, Aktivitas Fisik & Konsumsi Makanan Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-12 Tahun – Heryudarini Harahap
  5. Malnutrisi dan Infeksi Cacing STH pada Ibu Hamil di Daerah Pesisir Sungai Siak Pekanbaru – Yanti Ernalia
  6. The Role Individual, Household, and Primary Helath Care’s Services to Severe Malnutrition in Under Five Years Children in Indonesia – Budi Setyawati
  7. Aspek Kuliner dan Citarasa Makanan pada Pelayanan Gizi – Tuti Soenardi
  8. School Feeding – Tiurma Sinaga
  9. New Food Product Development for Nutrition Intervention – Budi Setiawan
  10. Pengembangan Instrumen Skrining Gizi di Rumah Sakit – Susetyowati
  11. Dukungan WHO Indonesia terhadap Standardisasi Kurikulum Pelatihan Gizi – Sugeng Eko Irianto

SIMPOSIUM IV

  1. Developing An Innovative Behavioral Change Campaign for Infant Nutrition, to Support The First 1000 Days of Life Movement in East Java – Ravi Kumar Menon (Download Video I) (Download Video II) (Download Video III)
  2. Micronutrients Status and Intake: Findings from the SMILING Project – Umi Fahmida
  3. Tepung Pury: Manfaat, Pengembangan, dan Kontribusinya sebagai Sumber Pangan Keluarga – Trina Astuti
  4. Does Exclusive Breastfeeding Prolong the Duration of Breastfeeding: A Porspective Study From the Exclusive Breastfeeding Promotion Program in Rural Indonesia – Kun Aristiati Susiloretni
  5. Pengaruh Dukungan Gizi Puding Tepung Tempe terhadap Penyembuhan Luka Pasien Bedah di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta –  Fery Lusviana Widiany
  6. Pengaruh Konsumsi Protein dan Seng serta Riwayat Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Pendek pada Anak Balita Umur 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida III – Kadek Tresna Adhi
  7. Impact of Multiple Micronutrient Supplementation on Nutritional Status and Growth on Female AdolescentSitti Patimah
  8. Kecukupan Energi Food Bar Tepung Bekatul dan Jagung Sebagai Pangan Darurat pada Semua Kelompok Usia – Inggita Kusumastuty
  9. Perjalanan Karier Ahli Gizi di Jasa Boga Indonesia – Wahyu Wijiati Rahayu

SIMPOSIUM V

  1. Pengaruh Pemberian Pisang (Musa Paradisiaca) terhadap Kelelahan Otot (Aerob dan Aenorob) pada Atlet Sepak Takraw – Ahmad Syauqy
  2. Pemberian Taburia (Sprinkle) Berpengaruh terhadap Lama dan Frekuensi Diare Akut Anak – Sopiyandi
  3. Pengaruh Pemberian Pie yang Terbuat dari Substitusi Terigu dengan Tepung Pati Jagung Nusa Penida Termodifikasi terhadap Kecukupan Energi Anak Balita di Daerah Rawan Pangan Nusa Penida – Luh Aris Aryandeni Utami
  4. Fromula Sirup Zink dar Ekstrak Ikan Bilih sebagai Alternatif Suplemen Zink Organik pada Anak Pendek Usia 12-36 Bulan – Eva Yuniritha
  5. Formulasi Makanan Cair Alternatif Berbasis Tepung Ikan Lele sebagai Sumber Protein – Nurul Huda
  6. Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Tentang Obesitas serta Perilaku Konsumsi Fast Food dan Soft Drink terhadap Kejadian Obesitas pada Anak Sekolah di SD Santo Yoseph Denpasar Tahun 2014 – Ni Wayan Arya Utami
  7. Analisi Konsusi Pangan dan Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 – Yayuk Farida Baliwati
  8. Hubungan Karakteristik Individu dengan Perilaku Keamanan Pangan Penjamah Makanan di Kantin Universitas Gadjah Mada – Ema Nurtika

Reblog dari http://persagi.org/portal/materi-pembicara-kpig-dan-temu-ilmiah-internasional/

Diet Penderita Stroke

Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. Hemoragik stroke ditandai dengan pecahnya pembuluh darah bagian kepala, biasanya disebabkan karena hipertensi yang parah sedangkan ischemik stroke merupakan stroke yang terjadi karena adanya sumbatan trombus pada dinding pembuluh darah, biasanya disebabkan karena dislipidemia atau kolesterol yang tidak terkontrol.

ImageSecara global, pada saat tertentu sekiatr 80 juta orang menderita akibat stroke. Terdapat sekitar 13 juta korban stroke baru setiap tahun, di mana sekitar 4,4 juta di antaranya meninggal dalam 12 bulan. Terdapat sekitar 250 juta anggota keluarga yang berkaitan dengan para pengidap stroke yang bertahan hidup. Selama perjalanan mereka, sekitar 4 dari 5 lima keluarga akan memiliki salah seorang anggota mereka yang terkena stroke.

Gejala Stroke

ImageGejala stroke diantaranya :

Saraf Kepala : binggung, sulit berbicara dan mengerti pembicaraan, pusing, hilang keseimbangan, sakit kepala berat

Mata : susah melihat satu/dua mata

Wajah, lengan dan tangan : lemas di salah satu sisi

Kaki : kesulitan berjalan

Penanganan Emergency Stroke

Waktu emas (golden period) dalam penanganan stroke adalah sekitar 3 jam. Itu artinya 3 jam pertama setelah seseorang mendapatkan serangan stroke, ia sudah harus mendapatkan terapi yang optimaldari tim dokter untuk mendapatkan hasil yang optimal. Semakin cepat penderita mendapatkan pertolongan medis, akan semakin baik hasilnya dan proses pemulihan pun akan semakin cepat. Penanganan fase akut pada stroke iskemik akibat sumbatan darah bertujuan untuk melancarkan kembali peredaran darah otak, terutama untuk daerah yang tersumbat tersebut agar tidak mengalami kematian total dari sel-sel otak (infark otak). Sedangkan penanganan fase akut pada stroke hemoragik (karena pecahnya pembuluh darah di otak) bertujuan untuk mengurangi jumlah darah yang keluar dari pembuluh darah tersebut agar jumlah voulme darah yang keluar tidak semakin banyak.

Image

Pemberian Diet Pada Stroke

Pemberian diet tinggi energi terutama protein diberikan pada pasien stroke karena sebagian besar pasien mengalami kesulitan makan (dysfagia) setelah serangan stroke, selain untuk mencegah terjadinya malnutrisi lebih lanjut, pemberian diet tinggi energi dan protein paska stroke dapat membantu perbaikan osmolaritas otak. Penelitian yang dilakukan oleh Wuryanti (2000) di bangsal stroke (hemoragik dan iskemik) di RSCM mengenai pemberian nutrisi enteral protein pada pasien stroke dapat menurunkan ekskresi kreatinin urin secara bermakna dan meningkatkan status protein pasien. Pada penderita stroke akut senantiasa diikuti dengan kenaikan kadar gula darah sementara waktu. Penelitian yang dilakukan di jepang menunjukkan diet protein (selain lemak dan karbohidrat) akan berpengaruh dengan munculnya stroke berulang. Penelitian pada hewan coba dengan pemberian diet  10% kalori dari lemak, hewan coba diberi diet tinggi protein/rendah karbohidrat (55% calories from protein) menunjukkan penundaan kejadian stroke berulang. Sedangkan pada hewan coba yang diberi diet rendah energi/tinggi karbohidrat (5% calories from protein) memiliki kejadian stroke berulang yang lebih cepat.

Jika serangan stroke telah teratasi maka pemberian diet akan berbeda, berikut piramida makan bagi penderita stroke :

Image

  • Karbohidrat berasal dari biji-bijian, serealia, oat, beras merah atau gandum utuh yang memiliki serat tinggi baik dikonsumsi
  • Sayuran: Pilih sering kaya gizi sayuran hijau dan oranye dan ingat untuk secara teratur makan kacang-kacangan
  • Buah: Makan berbagai buah segar, buah-buahan beku atau kering setiap hari.
  • Susu: Pilih yang rendah lemak atau makanan susu bebas lemak, atau berbagai makanan yang kaya kalsium nonsusu setiap hari.
  • Protein: Pilih yang rendah lemak atau daging tanpa lemak, unggas; dan variasikan dengan berbagai sayuran seperti buncis, kacang polong, kacang-kacangan, biji-bijian dan sumber ikan.
  • Lemak, terutama sumber lemak tidak jenuh yang berasal  dari ikan, kacang-kacangan dan minyak sayur. Batasi sumber lemak dari mentega, tongkat margarin, shortening.

Sumber :

1. Wuryanti, Sri. 2000. Pengaruh Nutrisi Enteral Tinggi Protein terhadap Status Protein Penderita Stroke Akut.

      Tesis. Universitas Indonesia

2. http://penyakitstroke.net/page/3/

3. http://www.hindawi.com/journals/jnme/2011/167898/

4. http://stroke.ahajournals.org/content/40/8/2828.full

5. http://my.clevelandclinic.org/disorders/stroke/hic_eating_well_after_a_stroke.aspx

Buah Naga (Dragon Fruit bukan Dragon ball) :D

                                                                        Buah naga (Dragon Fruit)
 
                                                        Image
 
Buah naga yang sering dikenal dengan dragron fruit -atau- buah pitaya. Entah mengapa belakangan ini saya suka sekali mengonsumsi buah ini. Apalagi yang berwarna merah. Rasanya lebih manis, cocok untuk dijadikan menu diet hehe. Jadi apa sebenarnya buah naga ini? Mari kita simak artikel yang disadur dari beberapa sumber ini.Buah naga adalah buah yang berasal dari wilayah amerika utara dan selatan yang kemudian tersebar dan dapat tumbuh di wilayah asia seperti china dan indonesia. Bentuk tumbuhannya seperti kaktus dan buahnya terdiri dari tiga macam warna dagingnya yaitu kuning, putih dan merah. Buah naga merupakan buah yang baik untuk dijadikan makanan diet, buah ini mengandung rendah kalori dan menawarkan berbagai jenis nutrisi seperti vitamin C, fosfor, kalsium, serat dan antioksidan.

                                                                   Image
 
Lalu bagaimanakah cara memilih buah naga? Buah naga seperti apakah yang dikatakan matang?
 
Buah naga yang baik berwarna cerah. Jika pada buah terdapat banyak bercak mungkin karena terlalu matang. Tanda lain buah naga yang terlalu matang adalah sangat kering, batangnya berwarna kecoklatan, atau pada daunnya berwarna kecoklatan. Peganglah buah naga pada telapak tangan dan tekan menggunakan ibu jari. Buah naga yang baik dan matang akan empuk seperti kiwi namun tidak terlalu lembek. Buah naga juga bisa dimatangkan dalam beberapa hari.
 
Adapun kandungan gizi dalam 100 gr buah naga :
 
Zat Gizi Kandungan
– Vitamin C 4–25 mg
– Water 80-90 g
– Abu 0.4-0.7  g
– Calcium 6–10 mg
– Calories 35-50 kcal
– Carbohydrates 9-14 g
– Carotene (Vitamin A) traces
– Lemak tidak jenuh 0.1-0.6  g
– Serat Fiber- Zat besi 0.3-0.9 g0.3-0.7  mg
– Niacin (Vitamin B3) 0.2-0.45 mg
– Phosphorus 16 – 36 mg
 
 
Buah naga mengandung flavonoid yang ditemukan pada biji buah naga. Flavonoid memiliki peran yang penting dalam aktifitas biologis diantaranya menghambat proliferasi sel, menginduksi apoptosis, enzyme-inhibiting, antibacterial, dan antioxidant effects (Cook and Samman, 1996; Havsteen, 2002; Middleton and Kandaswami, 1993). Flavonoid juga dapat bermanfaat sebagai antiarterosklerosis, antiinflamasi, antitumor. Penelitian epidemiologis menunjukkan konsumsi flavonoid secara teratur dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular. Selain flavonoid, buah naga juga mengandung phytoalbumins, vitamin C dan mineral penting yang bermanfaat sebagai antioksidan. Phytoalbumin ini adalah senyawa antioksidan generasi ke-3 yang dipercaya dapat mencegah kanker. Buah ini juga kaya akan potassium, protein, serat dan kalsium yang baik utuk kesehatan.

Penelitian pada manusia menunjukkan baahawa buah naga bersifat hipokolesterolemik (menurunkan kolesterol darah) sehingga berpotensi mengurangi resiko CHD (dislipidemia)

Mekanisme buah ini dalam menurunkan kolesterol darah adalah dengan meningkatkan fecal bile acids losses dan chemodeoxycholic acid synthesis. Faktor lain yang menyebabkan turunnya kadar koesterol adalah kandungan serat, plant sterol dan phytochemical yang berperan dalam metabolism kolesterol. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa buah naga juga dapat meningkatkan kadar HDL,  menurunkan kadar tigliserid maupun LDL-C. Jadi selamat mencoba buah ajaib ini :)

Sumber :
http://thaifood.about.com/od/thaisnacks/r/fruitsaladrecip.htm
http://www.medicalhealthguide.com/articles/dragonfruit-healthbenefits.htm
http://www.freepatentsonline.com/article/American-Journal-Applied-Sciences/208166316.html
 
 

Makanan dan Minuman untuk Sarapan Sehat

Makanan dan Minuman untuk Sarapan Sehat

Image
Sarapan adalah makan di waktu pagi sebelum tubuh mulai melakukan aktivitas, biasanya dilakukan sebelum jam  9 pagi. Sarapan pagi secara teratur dapat menyediakan energi yang cukup dalam beraktivitas sehingga prestasi belajar dapat dipertahankan. Sarapan pagi merupakan hal yang seringkali disepelekan banyak orang, padahal dengan sarapan pagi tubuh akan memperoleh  nutrisi yang dibutuhkan setelah berpuasa kurang lebih 8 jam di malam  hari. Selama tidur metabolisme tubuh tetap berlangsung, sehingga pada pagi hari perut dalam keadaan kosong. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa pada anak yang tidak sarapan pagi, maka kemampuannya dalam berkonsentrasi mengerjakan tugas berkurang, memiliki hasil ujian yang rendah, daya ingat yang terbatas dan sering absen.

Sarapan memberikan kontribusi penting karena menyumbang sekitar 25% dari total asupan gizi dalam sehari. Jika kecukupan energi adalah 2000 Kcal dan protein 50 g, maka sarapan menyumbang 500 Kcal energi dan 12,5 g protein. Hal ini menyebabkan seseorang yang tidak sarapan sulit untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Energi dari sarapan dikatakan adekuat jika setidaknya menyumbang  minimal 20% dari total asupan sehari. Menurut Soedibyo dan Gunawan (2009) konsumsi sarapan berenergi tinggi (>25% RDA) dapat memberikan asupan vitamin dan mineral harian yang lebih tinggi dibandingkan sarapan berenergi sedang (15-25%RDA) dan berenergi rendah (<15%) .  Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sunarti (2006) setiap peningkatan 1 kcal asupan energi dari sarapan memberikan kontribusi peningkatan skor konsentrasi sebesar 0,34 sedangkan 1 g protein dapat meningkatkan skor konsentrasi belajar sebesar 0,29. Penelitian yang dilakukan Wyon (1997) dari hasil recall sarapan anak-anak yang mengonsumsi sarapan dengan energi tinggi secara signifikan lebih sedikit merasa lapar dan memiliki integritas yang lebih baik di sekolah.

Image
Menurut Depkes (1999) setiap orang dianjurkan untuk makan makanan yang cukup mengandung energi agar dapat menjalankan kegiatan sehari-hari seperti bekerja dan belajar. Apabila asupan energi kurang, maka cadangan energi dalam tubuh yang berada dalam jaringan otot dan lemak akan digunakan untuk mengatasi kekurangan tersebut. Keadaan ini jika terus berlanjut dapat menurunkan daya kerja, prestasi belajar dan kreativitas. Anak sekolah yang tidak pernah sarapan akan mengalami kondisi menurunnya kadar glukosa darah sehingga pasokan energi untuk kerja otak berkurang. Tubuh akan memecah cadangan glikogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah  normal, lebih jauh lagi apabila cadangan glikogen habis tubuh akan mengalami kesulitan memasok kebutuhan energi dari glukosa darah ke otak yang akhirnya menyebabkan badan gemetar, cepat lelah dan gairah belajar turun.

Sarapan pagi seharusnya berisi karbohidrat kompleks yang menggunakan energi secara lambat. Energi yang diperoleh dalam sarapan dapat mencegah gangguan konsentrasi akibat turunnya kadar glukosa darah (hipoglikemia). Hipoglikemia menimbulkan perasaan pusing yang akut, badan bergetar, dan otot-otot menjadi lemas yang menyebabkan kelemahan dalam bekerja. Menurut Murray (2003) dengan adanya asupan makanan yang berasal dari karbohidrat menyebabkan kadar glukosa darah meningkat hingga 6,5-7,2 mmol/L dan jika tidak sarapan pagi atau dalam keadaan puasa akan turun berkisar 3,3-3,9 mmol/L. Sarapan penting bagi tubuh karena lambung akan terisi kembali setelah 8-10 jam kosong pada waktu malam hari. Setelah mengonsumsi sarapan, kadar glukosa darah akan kembali meningkat sebagai sumber energi otak di pagi hari.  Kadar glukosa darah seseorang dipengaruhi oleh asupan makanan, kecepatan masuknya glukosa darah ke sel-sel otot, jaringan lemak dan organ-organ lain dan aktivitas glukostatik dari hati. Sekitar 5% glukosa yang dikonsumsi diubah menjadi glikogen di dalam hati dan 30-40% diubah menjadi lemak dan sisanya akan dimetabolisme dalam otot dan jaringan lain.

Image
Adapun jenis makanan yang baik dikonsusi sebagai sarapan bermacam-macam. Menurut penelitian yang dilakukan Mahoney et al. (2005) anak yang mengonsumsi oatmeal dapat memberikan sumber energi yang lebih lambat dan lebih berkelanjutan dan akibatnya menghasilkan peningkatan kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan makanan yang mengandung rendah serat serta memiliki indeks glikemik tinggi. Makanan dengan komposisi protein yang lengkap, memiliki kandungan serat tinggi, skor glikemik dan laju pencernaan yang rendah baik dikonsumsi sebagai menu sarapan karena dapat lebih lama mempertahankan kadar gula darah. Anneke et al (2006) menunjukkan bahwa sarapan dengan sereal beserta susu di pagi hari juga baik dikonsumsi sebagai menu sarapan karena dapat meningkatkan asupan  mikronutrien terutama thiamine, riboflavin dan vitamin B6. Penelitian terbaru mengenai menu sarapan menunjukkan bahwa mengonsumsi telur di pagi hari dapat mempertahankan berat badan dan  mengurangi rasa lapar karena kandungan protein yang lengkap di dalamnya. Vander Wal et al (2008) menemukan bahwa sebutir telur dapat menurunkan berat badan dan rasa lapar yang disertai dengan diet rendah energi sehinggabaik dikonsumsi sebagai menu sarapan anda. (ati)

Daftar Pustaka

Almatsier, S. (2004). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia

Anneke B., Serra-Majem, M. Lourdes, R., Joy Ngo, Carmen P.R, Javier, A., Reginald, F. (2006) The Contribution of Ready-to-Eat Cereals to Daily Nutrient Intake and Breakfast Quality in a Mediterranean Setting. Journal of the American College of Nutrition, Vol. 25, No. 2, 135–143

Depkes (1999). Pedoman Pengukuran Kesegaran Jasmani. Jakarta : Depkes RI

Ganong W.F. (1979). Review of Medical Physiology. San Fransisco : University of California School of Medicine

Huang C.J., Hu, H.T., Fan, Y.C., Liao, Y.M, Tsai, P.S. (2010). Association of breakfast skipping with obesity and health related quality of life : evidence from national survey in Taiwan. International Journal of Obesity vol 34 pp.720-725

Hutapea, A.M, (1996). Menuju Gaya Hidup Sehat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Khomsan, A. (2003). Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta : Raja Grafindo

Mahoney, C.R, Taylor, H.A. and Kanarek, R.B. (2005) Effect of breakfast composition on cognitive processes in elementary school children. Journal of Physiological Behaviour vol.85, pp.635–645.

Murray, R. (2003). Biokimia Harper edisi 24. Jakarta: EGC

Rampersaud, G.C. Pereira, M.A, Girard, B.L., Adams, J. & Metzl J.D (2005) Review : breakfast habits, nutritional status, body weight, and academic performance in chldren and adolescents. Journal or the American Dietetic Association; vol.105. pp.743-760

Sibua, P. (2002). Perbaikan gizi anak sekolah sebagai investasi sumber daya manusia. Artikel Perkembangan Anak Vol(9) pp. 20-24

Soekirman. (2000). Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas RI

Soedibyo,S dan Henry Gunawan.(2009). Kebiasaan sarapan di kalangan anak usia Sekolah Dasar di Poliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Sari Pediatri vol.11(1):66-70

Sunarti, E. (2006). Pengaruh Pemberian makanan tambahan terhadap kosentrasi belajar siswa Sekolah Dasar. Berita Kedokteran Masyarakat Vol 2 (2) pp.55-57

Wyon D, Abrahamsson L, Jartelius M and Fletcher R. (1997).  An Experimental Study of the Effects of Energy Intake at Breakfast on the Test Performance of 10 Year-old Children in School.  International Journal of Food Science and Nutrition. Vol.48(1) pp. 5-12.

Vander Wal1, J.S., Gupta,A., KhoslaA., and Dhurandhar. (2008). Egg breakfast enhances weight loss. International Journal of Obesity,vol 32, pp.1545–1551