GIZI DAN KECERDASAN ANAK

Anak adalah pelita bagi orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya. Melihat anaknya tumbuh besar, berkembang secara optimal dan menjadi unggulan

Setiap anak dianugerahkan bermacam-macam potensi kecerdasan. Logika matematika, visual spatial, gerak tubuh, musikal, emosi, dan naturalis merupakan potensi-potensi kecerdasan anak yang perlu dirangsang dan dikembangkan. Otak merupakan pusat tumbuh kembang anak. Saat dilahirkan, setiap bayi memiliki 100 milyar sel otak. Namun belum semua sel otak tersebut terhubung dengan sempurna. Otak mengalami masa konstruksi sejak janin hingga dekade pertama masa kanak-kanak. Selama masa konstruksi ini lebih banyak sel syaraf yang terbentuk dan terpakai. Kekuatan dan jumlah hubungan baru antarsel syaraf menjadi dasar memori seorang anak hingga dewasa. Pemberian nutrisi yang cukup akan mengoptimalkan hubungan antarsel syaraf tersebut.

Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling brain), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain, otak pikir). Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi “hadapi atau lari” (fight or flight response) bagi tubuh. Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang urat syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.

Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan otak bayi adalah nutrisi atau gizi yang diberikan, terlebih pada periode percepatan pertumbuhan otak. Ada banyak zat gizi yang diperlukan untuk perkembangan otak yaitu protein dan asam amino, AA-DHA, gangliosida, kolin, serta zat gizi mikro (zat besi, zat seng, tembaga, iodium, folat, dan vitamin A.

Selain nutrisi, stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan.

Floor time merupakan metode stimulasi otak yang saat ini sedang dikembangkan. Metode floor time bertujuan untuk mengembangkan semua potensi anak, membantu kedekatan emosional antara orangtua dan anak, melatih kemampuan berkomunikasi, kemampuan berfikir, serta meningkatkan kepercayaan diri anak. Secara sederhana, floor time dapat diartikan sebagai sarana berinteraksi dan bermain bagi orang tua kepada anak selama 20-30 menit bersama anak. Berinteraksi dan bermain dapat diulang beberapa kali per hari.  Dalam metode floor time, orang tua harus memfokuskan pada keinginan anak (inisiatif dari anak, orang tua hanya sebagai fasilitator). Selama tidak membahayakan, hindari melarang anak yang berumur di bawah tiga tahun dalam mengerjakan sesuatu. Bila anak terlalu sering dilarang oleh orang tua, kreativitas anak tidak bisa berkembang dengan baik. dari sel-sel otak (neoro) yang banyaknya 14 milyar sel, tidak bisa tumbuh dan berkembang secara alami saja. Ia membutuhkan nutrisi. Dan nutrisi yang paling bagus dan paling cocok tiada lain adalah yang terdapat dalam ASI. Karena ASI sangat sempurna sebagai nutrisi bagi bayi/anak. ASI mengandung AA (Asam Arakhidonat) termasuk kelompok omega 6 (enam) yang terbentuk dari Asam Likonat (AL) dan DHA (Asam Dekosa Heksanoat) kelompok omega 3 (tiga) yang terbentuk dari Asam Linolenat (ALA) dan nutrisi lain seperti protein, laktose, dan lemak lainnya yang merupakan zat yang dapat merangsang pertumbuhan otak bayi/anak.

Pertumbuhan sel otak bayi/anak usia 0-2 tahun sangat pesat. Periode tersebut para ahli menyebutnya sebagai ‘golden period / periode emas’, periode yang paling baik dan paling penting diperhatikan oleh orangtua yang hanya sekali dijumpai seumur hidup manusia. Apabila nutrisi bayi/anak pada usia tersebut cukup dan sehat, terutama melalui ASI, maka tingkat kecerdasan bayi/anak akan lebih baik.

Akibat Kekurangan Nutrisi

Otak manusia yang jumlah selnya sebanyak 14 milyar tadi menghubungkan dan mengatur serta mengendalikan semua organ tubuh, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pembelahan sel-sel otak membutuhkan zat-zat gizi. ASI berperan penting untuk pembelahan itu. Kalau dalam pembentukan sel-sel otak yang jumlahnya milyaran tadi, nutrisi yang dibutuhkan tak cukup, pertumbuhan otak bayi/anak akan terganggu. Paling umum, akibat lambatnya pertumbuhan sel otak bayi/anak, kecerdasan bayi/anak akan berkurang. Jika anak/bayi seusianya sudah bisa berbicara, berjalan misalnya, anak yang tidak diberi ASI atau kurang ASI belum bisa apaapa, karena fungsi tubuh diatur di otak. Menurut Prof. Ali Khomsan kecerdasan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu genetik, lingkungan dan gizi. Rendahnya status gizi jelas mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena berkaitan dengan kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit, produktivitas kerja, dan lain-lain. Faktor gizi menjadi penting karena jika terjadi kekurangan gizi pada masa tertentu, maka susah untuk dipulihkan kembali. Kekurangan zat gizi tertentu bisa menyebabkan perkembangan otak terhambat dan menyebabkan turunnya kecerdasan anak. Oleh karena itu, orang tua harus dapat memilih makanan dengan kandungan nutrisi seimbang dan porsi yang tepat. Gizi baik yang diberikan orangtua akan membuat anak memiliki tubuh yang kuat, sehat, dan perkembangan otak yang sempurna sehingga anak menjadi lebih cerdas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa retardasi pertumbuhan otak banyak terkait dengan masukan makanan yang kurang, terutama energy, lemak, protein serta defisiensi zat gizi tertentu seperti folat, Zn, dan Fe, asupan ibu sewaktu hamil juga berperan penting sehingga jika ibu kekurangan zat-zat tersebut maka bayi akan mengalami retardasi mental dan kecerdasanny berkurang yang disebabkan terbatasnya sel-sel otak yang dibentuk. Walaupun ukuran otak bukan satu-satunya indicator kecerdasan namun banyak penelitian membuktikan bahwa ukuran otak yang kecil terkait dengan intelegansi yang rendah dan fungsi otak yang kurang. Beberapa zat gizi yang telah diteliti bermanfaat bagi kecerdasan otak diataranya adalah asam lemak linoleat dan linolenat, kekurangan zat gizi ini dapat menyebabkan BBLR, kelahiran dini, gangguan proses belajar, gangguan imunitas dan penyakit jantung (Karyadi, 1998)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sunaryo (2001) defisiensi folat dapat menyebabkan terhambatnya produksi DNA dan sel otak. Defisiensi Zn dapat menyebabkan gangguan proses belajar dan daya ingat, Seng berperan dalam produksi enzim-enzim pada sel otak. Defisiensi Fe pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi mengalami kekurangan sel-sel otak dan oksigen sehingga beresiko mengalami disfungsi otak.

Ludington dan Golant (2001) mengemukakan bahwa selama kehamilan nutrisi ibu akan mempengaruhi perkembangan otak janinnya. Gizi ibu yang buruk akan merusak otak bayi Penelitian menunjukkan jika gizi ibu buruk maka otak bayi akan kekurangan DNA, kecenderungan genetiknya, ukuran dan berat normal kurang, mielinasi berkurang, dan dendrite membentuk percabangan yang lebih sedikit dari normal. Dari berbagai penelitian di atas diketahui bahwa masa gestasi (kehamilan) adalah masa kritis menentukan tumbuh kembang otak, sehingga berbagai zat gizi harus tersedia selama kehamilan.

  Efek Gizi Kurang pada Otak dan Kecerdasan Bayi dan Balita

Gizi memiliki peran penting selama pertumbuhan otak. Jika kekurangan gizi terjadi sebelum 8 bulan, maka jumlah dan ukuran sel otak akan mengecil. Penelitian menunjukkan bayi yang mengalami kekurangan energy dan protein (KEP) berat memiliki bobot otak 15-20% lebih ringan dibanding bayi normal. Defisiensi bisa mencapai 40% bila berlangsung sejak janin. Anak-anak yang menderita KEP umumnya memiliki IQ yang rendah, kemampuan abstraktif, dan verbal yang lebih rendah daripada yang mendapat gizi baik (Luize,2006). Berdasarkan penelitian Karyadi (1998) pada anak yang berusia 2-3 tahun yang mengalami KEP dapat menyebabkan gangguan yang berhubungan dengan perbanyakan sel, myelinisasi, pertumbuhan dendrite dan sinaps sehingga menyebabkan kesulitan mengingat informasi, kesulitan memecahkan masalah, serta mengurangi kreativitas dan daya cipta. Penelitian Depkes RI (2002) menyatakan bahwa anak yang mengalami gizi buruk akan memiliki resiko kehilangan poin IQ 10-13 poin. Kemampuan belajar erat kaitannya dengan peran dendrite menghantarkan rangsangan dari luar menuju sel saraf. Jika lebih banyak dendrite yang terbentuk maka lebih banyak sinaps yang berpotensi untuk menyampaikan informasi belajar. Pada usia dua tahun 50% dari sel-sel otak sudah dilengkapi dengan sel dendrite, pada usia 6 tahun sekitar 70% dan pada usia 20 tahun sampai 90%. Apabila pada masa pembentukan sel dendritik zat gizi yang dibutuhkan tidak tersedia maka jumlah sinaps yang dihasilkan akan berkurang yang menyebabakan daya ingat berkurang, dan kapasitas belajar kurang (Karyadi, 1998). Sebuah penelitian di Banjarmasin menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dan kecerdasan anak (Rochmah,2003).

Berbagai penelitian menunjukkan pemberian makanan bergizi sampai usia 24 bulan selama masa kandungan dapat memberikan efek kecerdasan bagi anak, selain itu penelitian dari Waber (1981) menunjukkan bahwa pemberian makanan bergizi minyak, susu dan roti pada ibu hamil sampai anak berusia 3 tahun menunjukkan hasil yang positif terhadap perkembangan psikomotorik anak.Berdasarkan penelitian Husaini (1991) pemberian MP ASI berenergi 1672 kJ/hari  selama 90 hari pada usia 6 bulan sampai 20 bulan berdampak postif terhadap pertumbuhan fisik dan psikomotorik anak.

(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s